Pemerintah Amerika Serikat menugaskan Vance untuk memimpin pembicaraan tingkat tinggi tersebut, dengan fokus utama mencapai kesepakatan damai yang lebih permanen.
Delegasi AS juga melibatkan sejumlah tokoh penting, termasuk utusan khusus Timur Tengah dan penasihat presiden.
Dalam pernyataannya, Vance menegaskan bahwa pihaknya siap membuka ruang diplomasi selama Iran menunjukkan itikad baik dalam perundingan. Ia juga mengingatkan bahwa AS tidak akan tinggal diam jika negosiasi tidak berjalan sesuai harapan.
Banyak pihak menilai perundingan tersebut sebagai momentum penting untuk menentukan arah konflik ke depan, terutama setelah eskalasi militer yang melibatkan berbagai negara di kawasan.
Namun, situasi tetap dinamis. Terdapat laporan bahwa rencana kehadiran Vance sempat mengalami perubahan karena pertimbangan keamanan, meski ia sebelumnya memimpin putaran negosiasi serupa yang belum menghasilkan kesepakatan konkret.
Para pengamat menilai bahwa keberhasilan perundingan ini akan sangat bergantung pada fleksibilitas kedua belah pihak dalam mencapai kompromi. Jika berhasil, kesepakatan tersebut berpotensi menurunkan ketegangan global dan menstabilkan kondisi geopolitik, termasuk sektor energi dunia.
Dengan berbagai tekanan dan kepentingan yang terlibat, negosiasi di Pakistan ini menjadi salah satu upaya diplomatik paling krusial dalam beberapa waktu terakhir.





