Susilo Bambang Yudhoyono menyoroti potensi dampak besar konflik di kawasan Timur Tengah terhadap perekonomian global. Ia memperingatkan bahwa perang yang terus meluas dapat membuat ekonomi dunia “berantakan” jika tidak segera dikendalikan.
SBY menyampaikan pandangannya dalam sebuah forum diskusi, di mana ia menekankan pentingnya stabilitas geopolitik bagi keberlangsungan ekonomi global. Ia menjelaskan bahwa konflik di Timur Tengah dapat mengganggu jalur distribusi energi, terutama minyak dan gas, yang menjadi kebutuhan utama banyak negara.
Menurut SBY, gangguan pada pasokan energi akan langsung memicu kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan tersebut berpotensi meningkatkan inflasi di berbagai negara, termasuk negara berkembang yang sangat bergantung pada impor energi. Ia menilai kondisi ini dapat menekan daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, SBY juga mengingatkan bahwa ketegangan berkepanjangan dapat memicu ketidakpastian di pasar keuangan global. Investor cenderung menahan investasi atau memindahkan aset ke instrumen yang lebih aman. Akibatnya, arus investasi dapat terganggu dan memperburuk kondisi ekonomi di berbagai kawasan.
SBY mendorong para pemimpin dunia untuk mengutamakan jalur diplomasi dalam menyelesaikan konflik. Ia menilai dialog dan kerja sama internasional menjadi kunci untuk mencegah eskalasi yang lebih luas. Tanpa upaya tersebut, dampak perang tidak hanya dirasakan di kawasan konflik, tetapi juga menyebar ke seluruh dunia.
Kesimpulannya, peringatan SBY menegaskan bahwa perang di Timur Tengah tidak hanya menjadi masalah regional, tetapi juga ancaman global. Stabilitas ekonomi dunia sangat bergantung pada kemampuan negara-negara untuk menjaga perdamaian dan menghindari konflik berkepanjangan.





