Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat setelah kasus keracunan akibat konsumsi daging anjing terjadi di Mamuju. Insiden ini melibatkan sejumlah korban, mulai dari pemuda hingga balita, yang mengalami gejala serius setelah mengonsumsi makanan tersebut.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan bahwa konsumsi daging anjing berisiko tinggi terhadap kesehatan, terutama jika tidak melalui proses pengolahan yang higienis dan aman. Dalam beberapa kasus, daging anjing dapat menjadi media penularan berbagai penyakit berbahaya.
Peristiwa di Mamuju ini diduga terjadi akibat daging yang terkontaminasi atau tidak layak konsumsi. Korban dilaporkan mengalami gejala seperti mual, muntah, pusing, hingga gangguan pencernaan tak lama setelah mengonsumsi hidangan tersebut.
Kemenkes mengingatkan masyarakat agar lebih selektif dalam memilih makanan, terutama yang berasal dari sumber yang tidak umum dikonsumsi. Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan pengawasan terhadap peredaran daging yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Pihak berwenang setempat saat ini tengah melakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti keracunan serta mencegah kejadian serupa terulang. Edukasi kepada masyarakat juga terus digencarkan guna meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan pangan.
Kemenkes menegaskan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan tertentu, serta melaporkan kejadian serupa kepada pihak terkait.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa keamanan pangan tidak boleh diabaikan. Dengan kewaspadaan dan pengetahuan yang memadai, risiko keracunan dapat diminimalkan demi menjaga kesehatan bersama.





