Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa meski April menandai awal musim kemarau di Indonesia, hujan deras masih mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya. Kondisi ini terjadi karena Indonesia saat ini masih berada dalam masa peralihan musim atau pancaroba.
BMKG menjelaskan bahwa awal musim kemarau di Indonesia tidak terjadi secara serentak di semua wilayah. Proses peralihan berlangsung bertahap mulai April hingga Juni, sehingga beberapa daerah, termasuk Jakarta, masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Selain itu, BMKG mengungkapkan bahwa dinamika atmosfer masih cukup aktif dan memicu terbentuknya awan hujan. Aktivitas gelombang atmosfer seperti Rossby, Kelvin, dan Madden-Julian Oscillation (MJO) turut berperan dalam meningkatkan curah hujan di sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek.
Faktor lain yang memengaruhi adalah peralihan dominasi angin dari monsun Asia ke monsun Australia. Meski monsun Australia cenderung membawa udara kering, proses transisi ini justru menciptakan kondisi labil di atmosfer yang mendukung pembentukan awan konvektif penyebab hujan.
BMKG juga mencatat bahwa selama awal April 2026, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jakarta. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun musim kemarau mulai datang, potensi hujan tetap tinggi pada fase pancaroba.
Masyarakat pun diimbau untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang cepat, termasuk potensi hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang. BMKG menegaskan bahwa kondisi pancaroba sering kali memicu cuaca ekstrem dalam waktu singkat.
Dengan demikian, hujan deras yang masih terjadi di Jakarta pada awal April merupakan fenomena yang wajar dalam masa peralihan musim, sebelum kemarau benar-benar stabil di sebagian besar wilayah Indonesia.





