Para pakar hubungan internasional menjelaskan alasan kuat Iran menolak tawaran damai yang diajukan oleh Amerika Serikat. Iran secara tegas menolak rencana perdamaian 15 poin dari Amerika karena sejumlah faktor strategis dan politis yang melekat dalam negosiasi tersebut.
Pakar menyatakan bahwa Iran melihat tawaran damai itu merendahkan harga diri negara dan tidak mencerminkan posisi tawar Teheran secara setara. Bagi Iran, menerima paket perjanjian yang dinilai terlalu berat sebelah dapat dipandang sebagai kekalahan diplomatik yang menurunkan wibawa nasionalnya.
Selain itu, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa Washington sering menarik diri secara sepihak dari perjanjian internasional. Hal ini membuat Iran kurang percaya bahwa AS akan menepati kesepakatan damai secara konsisten. Ketidakpercayaan ini diperkuat oleh sejarah hubungan bilateral yang penuh dengan ketegangan dan sanksi ekonomi.
Pakar lainnya menilai bahwa penolakan Iran juga merupakan langkah untuk memperkuat posisi tawar dalam negosiasi. Teheran kini justru mengajukan tuntutan yang lebih keras, termasuk syarat-syarat yang dianggap fundamental oleh pemerintahnya sebelum bersedia menghentikan konflik.
Dalam konteks internasional, sejumlah pengamat menilai bahwa keputusan Iran mencerminkan strategi bertahan kuat di tengah tekanan geopolitik, bukan sekadar penolakan tanpa alasan. Iran menuntut adanya jaminan konkret terhadap keamanan dan pengakuan atas beberapa kepentingan strategisnya sebelum menerima penghentian permusuhan.
Penolakan itu makin menegaskan bahwa meja perundingan tidak akan mudah menghasilkan kesepakatan damai dalam waktu dekat, karena perbedaan persepsi dan tujuan antara kedua negara masih sangat besar.





